Keajaiban Janin Dalam Rahim Ibu

Proses pembelajaran janin sudah dimulai sejak dalam kandungan, janin ikut belajar pada trimester kedua dan ketiga, seperti di dalam ruang Amphitheater yang lebih canggih dari kelas mana pun di dunia

tips berhubungan seks agar cepat hamil

Biasanya pasangan yang telah menikah, memiliki seorang anak adalah hal yang paling diinginkan dan diharapkan. Sayangnya, tidak semua pasangan suami istri dapat kunjung memiliki anak yang didambakannya. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor.

persalinan dengan teknik hipnobirthing

Hypnobirthing memungkinkan calon ibu untuk menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan..

bahaya toksoplasma bagi ibu hamil dan janin

Toksoplasma atau toksoplasmosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh parasit toksoplasma gondii. Tak hanya ditularkan oleh kucing namun juga dapat ditularkan oleh semua jenis satwa termasuk burung, ikan, kelinci, anjing, babi, kambing dan mamalia lain. .

anatomi fisiologi sistem reproduksi pria dan wanita

Kamis, 28 Juli 2011

Emboli Air Ketuban

Emboli air ketuban adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen disini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban, seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental.
Secara keseluruhan, insiden berkisar antara 1 dalam 8000 sampai 1 dalam 80000 kehamilan. Di Amerika, emboli air ketuban menempati 10 persen dari penyebab kematian ibu, sedangkan di Inggris, persentasenya berkisar 16 persen. Sebagian besar penderita emboli air ketuban yang selamat, menderita gangguan neurologis.
Emboli air ketuban dapat terjadi saat persalinan, baik normal maupun melalui operasi Caesar. Pada saat persalinan, terdapat risiko untuk terjadinya emboli air ketuban karena banyak pembuluh darah balik yang terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyumbat pembuluh darah balik.
Beberapa faktor risiko dalam emboli air ketuban adalah :
  1. Meningkatnya usia ibu
  2. Multiparitas (banyak anak)
  3. Adanya mekoneum
  4. Laserasi serviks
  5. Kematian janin dalam kandungan
  6. Kontraksi yang terlalu kuat
  7. Persalinan singkat
  8. Plasenta akreta
  9. Air ketuban yang banyak
  10. Robeknya rahim
  11. Adanya riwayat alergi atau atopi pada ibu
  12. Adanya infeksi pada selaput ketuban
  13. Bayi besar
Meskipun  demikian, para ahli berpendapat bahwa kondisi emboli air ketuban tidak dapat dihindarkan.
Pada saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan tinggi karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Selanjutnya air ketuban dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu. Jika sumbatan di paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah jantung. Akibatnya timbul gangguan pada jantung dan paru-paru.
Cotton pada tahun 1996, mengemukakan teori untuk menjelaskan kerusakan yang terjadi dalam kasus emboli air ketuban. Secara patofisiologis, terjadi dua fase :
  • Fase pertama : air ketuban beserta komponennya memasuki sirkulasi darah -> adanya mediator biokimiawi yang dikeluarkan oleh tubuh -> terjadi vasospasme arteri paru-paru -> terjadi hipertensi pembuluh darah dari paru ->  kenaikan tekanan ventrikel kanan -> terjadi hipoksia -> adanya kerusakan otot jantung dan paru-paru -> gagal jantung kiri -> terjadi kegagalan pernafasan
  • Fase kedua : adanya mediator biokimiawi -> gangguan pembekuan darah (DIC) -> fase perdarahan yang ditandai dengan perdarahan dan hilangnya kontraksi rahim
Gejala klinis :
  • Gangguan pernapasan
  • Cyanosis atau kebiruan
  • Gangguan aliran darah, atau syok
  • Perdarahan
  • Koma
Lebih dari 50 persen pasien dengan emboli air ketuban mengalami kematian dalam 1 jam pertama, dan 50 persen pasien yang selamat akan mengalami gangguan pembekuan darah (DIC) yang timbul sebagai perdarahan dari rahim atau dari luka operasi. Proses emboli air ketuban bisa berlangsung sangat cepat. Pada umumnya dalam 1 jam sesudah melahirkan, nyawa ibu yang mengalami emboli air ketuban tidak lagi bisa tertolong. Apalagi muncul secara tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya dan proses berlangsung dengan cepat. Pada ibu bersalin kasus emboli air ketuban kematiannya mencapai 86%.
Terapi yang diberikan biasanya hanya berupa terapi suportif, sesuai dengan gejala yang timbul
  • Pada gejala sesak nafas, ibu diberi oksigen atau dimasukan ke dalam alat bantu nafas, bila sumbatan yang terjadi sedikit, gejala sesak napas dapat menghilang
  • Pada gangguan yang berupa pembekuan darah atau ibu mengalami perdarahan hebat, yang dapat dilakukan transfusi darah
Kasus emboli air ketuban sulit dicegah, tidak dapat diprediksi. Diagnosis pasti didapat dengan otopsi. Dimana terlihat komponen air ketuban tersebar di pembuluh darah paru.Diagnosis yang bisa ditegakkan adalah diagnosis klinis dimana dokter akan mengamati gejala klinis si ibu, apakah ia mengalami sesak nafas, wajah kebiruan, terjadi gangguan sirkulasi jantung, tensi darah turun mendadak, bahkan sampai jantung berhenti atau gangguan perdarahan.
Risiko emboli air ketuban tidak dapat diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli air ketuban paling sering terjadi saat persalinan, perjalanan kehamilan yang lancar tidak menjamin seorang ibu aman dari ancaman emboli air ketuban

Prolapsus Uteri


Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya.
Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.Persalinan lama dan sulit,meneran sebelum pembukaan lengkap,laserasi dinding vagina bawah pada kala II,penatalaksanaan pengeluaran plasenta,reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat.

Klasifikasi

Tingkat I : Uterus turun dengan serviks paling rendah dalam introitus vagina
Tingkat II : Uterus sebagian keluar dari vagina
Tingkat III : Uterus keluar seluruhnya dari vagina yang disertai dengan inversio vagina (PROSIDENSIA UTERI)

2. Tanda dan Gejala
Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.
Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:
a. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna.
b. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache).Biasanya jika penderita berbaring,keluhan menghilang atau menjadi kurang.
c. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:
1. Miksi sering dan sedikit-sedikit.Mula –mula pada siang hari,kemudian lebih berat juga pada malam hari
2. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya.
3. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk,mengejan.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali.

d. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:
1. obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel.
2. baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina.
e. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:
1. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.
2. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri.
f. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina.

3. Etiologi
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering,partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps yang sudah ada.Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap,prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta dsb.Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas.Asdites dan tumor-tumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya hal tsb.Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara,factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.

4. Patofisiologi
Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat ,dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri totalis.Terutama akibat persalinan,khususnya persalinan pervagina yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fasia endopelviks dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul.Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus,terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam menopause.
Serviks uteri terletak diluar vagina,akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut.dan lambat laun menimbulkan ulkus yang dinamakan ulkus dekubitus.Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetric,ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja,dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar,atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel.Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra.Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal hanya dibelakang urethra ada lubang yang membuat kantong antara urethra dan vagina.kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol kelumen vagina yang dinamakan retrokel.Enterokel adalah hernia dari kavum Douglasi.Dinding vagina bagian belakang turun dan menonjol ke depan.Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum.

5. Pemeriksaan Penunjang
Friedman dan Little(1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut:
a. Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan dengan pemeriksaan jari,apakah portio pada normal atau portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina.
b. Penderita berbaring pada posisi litotomi,ditentukan pula panjangnya serviks uteri.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan Elongasio kolli.
c. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan.Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam,kateter itu diarahkan kedalam sitokel,dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina.Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel,dekat pada oue.
Menegakkan diagnosis retrokel mudah,yaitu menonjolnya rectum kelumen vagina 1/3 bagian bawah.Penonjolan ini berbentuk lonjong,memanjang dari proksimal kedistal,kistik dan tidak nyeri.
Untuk memastikan diagnosis,jari dimasukkan kedalam rectum,dan selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen vagina.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari retrokel.Pada pemeriksaan rectal,dinding rectum lurus,ada benjolan ke vagina terdapat di atas rectum.

6. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan,atau penderita masih ingin mendapat anak lagi,atau penderita menolak untuk dioperasi,atau kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.
a. Latihan-latihan otot dasar panggul
b. Stimulasi otot –otot dengan alat listrik
c. Pengobatan dengan pessarium,dengan indikasi:kehamilan,bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi,sebagai terapi tes,penderita menolak untuk dioperasi,untuk menghilangkan simpton yang ada sambil menunggu waktu operasi dapat dilakukan

Pengobatan Operatif
Prolapsus uteri biasanya disertai dengan prolapsus vagina.Maka,jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri,prolapsus vagina perlu ditangani juga.ada kemungkinan terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan,padahal tidak ada prolapsus uteri,atau prolapsus uteri yang tidak ada belum perlu dioperasi.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus vagina adalah adanya keluhan.
Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa factor,seperi umur penderita,keinginanya untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus,tingkat prolapsus dan adanya keluhan.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PROLAPS UTERI

1. Pengkajian
• Data Subyektif
♦ Sebelum Operasi
Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan.
Nyeri di daerah benjolan.
Mual, muntah, kembung.
Konstipasi.
Tidak nafsu makan.
Bayi menangis terns.
Pada saat bayi menangis/mengejan dan batuk¬batuk kuat timbul benjolan.
♦ Sesudah Operasi
Nyeri di daerah operasi.
Lemas.
Pusing.
Mual, kembung.
• Data Obyektif
♦ Sebelum Operasi
Nyeri bila benjolan tersentuh.
Pucat, gelisah.
Spasme otot.
Demam.
Dehidrasi.
Terdengar bising usus pada benjolan.
♦ Sesudah Operasi
Terdapat luka pada selangkangan.
Puasa.
Selaput mukosa mulut keying.
Anak / bayi rewel.

2. Diagnosa Keperawatan
• Sebelum Operasi
Diagnosa Keperawatan 1.
Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin
Hasil yang diharapkan :
Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap.
Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya,
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Observasi keluhan nyeri, lokasi, jenis dan intensitas nyeri
3. Jelaskan penyebab rasa sakit, cars menguranginya.
4. Beri posisi senyaman mungkin bunt pasien.
5. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam.
6. Bed obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter.
7. Ciptakan lingkungan yang tenang.
Diagnosa Keperawatan 2.
Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan.
Hasil yang diharapkan :
Ekspresi wajah tenang.
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan pasien.
2. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah, waktu puasa, jam operasi.
3. Dengarkan keluhan pasien
4. Beri kesempatan anak untuk bertanya.
5. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan.
6. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi.
Diagnosa Keperawatan 3.
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inkontenensia urin
Hasil yang diharapkan :
Turgor kulit elastis.
Rencana tindakan
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
2. Timbang berat baclan anak tiap hari.
3. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter.
• Sesudah Operasi
Diagnosa Keperawatan 1.
Nyeri berhubungan dengan luka operasi.
Hasil yang, diharapkan :
Nyeri berkurang, secara bertahap.
Rencana tindakan :
1. Kaji intensitas nyeri pasien.
2. Observasi tanda-tanda vital clan keluhan pasien.
3. Letakkan anak pada tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai dengan pembedahan yang dilakukan.
4. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan
aman.
5. Anjurkan untuk sesegera mungkin anak beraktivitas secara bertahap.
6. Berikan therapi analgetik sesuai program medis.
7. Lakukan tindakan keperawatan anak dengan hati-hati.
8. Ajarkan tehnik relaksasi.
Diagnosa Keperawatan 2.
Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan.
Hasil yang diharapkan
Turgor kulit elastis, tidak kering.
Mual clan muntah ticlak ada.
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
2. Monitor pemberian infus.
3. Beri minum & makan secara bertahaP.
4. Monitor tanda-tanda dehidrasi.
5. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar.
6. Timbang berat badan tiap hari.
7. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya.
Diagnosa Keperawatan 3.
Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Hasil yang diharapkan
Luka operasi bersih, kering, tidak ada bengkak. tidak ada perdarahan.
Rencana tindakan :
1. Observasi keadaan luka operasi dari tanda¬tanda peradangan : demam, merah, bengkak dan keluar cairan.
2. Rawat luka dengan teknik steril.
3. Jaga kebersihan sekitar luka operasi.
4. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan.
5. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan lingkungannya.
6. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi.
Diagnosa Keperawatan 4.
Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pads luka operasi.
Hasil yang diharapkan :
1. Luka operasi bersih, kering, ticlak bengkak. ticlak ada perdarahan.
2. Suhu dalam batas normal (36-37°C)
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
2. Beri terapi antibiotik sesuai program medik.
3. Beri kompres hangat.
4. Monitor pemberian infus.
5. Rawat luka operasi dengan tehnik steril.
6. Jaga kebersihan luka operasi.
7. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar.
Diagnosa Keperawatan 5.
Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi.
Hasil yang diharapkan :
1. Orang tua mengerti tentang perawatan luka operasi.
2. Orang tua dapat memelihara kebersihan luka operasi clan perawatannya.
Rencana tindakan :
1. Ajarkan kepada orang tua cara merawat luka operasi & menjaga kebersihannya.
2. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya.
3. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya.
4. Jelaskan tentang perawatan dirumah, balutan jangan basah & kotor.
5. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur di rumah, dan kontrol kembali ke dokter.

Sabtu, 16 Juli 2011

Mitos-mitos seputar kehamilan

Mitos : Minum air es menyebabkan bayi besar
Fakta : Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa air es menyebabkan bayi besar. Jadi sementara ini itu hanya mitos belaka.

Mitos : Makan durian menyebabkan gangguan kehamilan
Fakta : Diketahui bahwa durian menyebabkan kenaikan kadar kolestrol darah dan mengandung jumlah kalori yang cukup tinggi , tidak sepadan dengan vitamin yang didapatkan dari durian tersebut. Sedangkan pada ibu hamil, seyogyanya memilih makanan yang lebih tinggi nilai nutrisinya dan tidak terlalu menggemukkan.

Mitos : Minum minuman bersoda menyebabkan gangguan kehamilan
Fakta : Minuman bersoda memang tidak baik untuk kesehatan, apalagi bagi ibu hamil. Minuman bersoda merupakan minuman dengan nilai kalori yang cukup tinggi tetapi kosong nutrisinya, dan dapat merangsang lambung bagi para penderita maag, terutama apabila diminum saat lambung kosong.

Mitos : Minum susu ibu hamil menyebabkan bayi besar.
Fakta : Penyebab bayi besar tidak mutlak berdasarkan apa yang dimakan oleh si ibu. Faktor keturunan dan bawaan sangat besar juga perannya. Justru minum susu hamil adalah baik, kaarena mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan khusus bagi si ibu hamil yang makanannya tidak cukup gizinya, minum susu hamil adalah penting untuk mencukupi gizi . Apabila takut bayi terlalu besar, yang penting adalah jangan makan makanan yang kosong gizi (maksudnya, tinggi kalori tapi rendah nutrisinya).

Mitos : Ibu hamil tidak boleh minum yoghurt
Fakta : Tidak ada penelitian yang mendukung pernyataan ini. Jadi pertanyaan ini hanya mitos belaka.


Dari berbagai sumber.

Mitos seputar seks dan kehamilan

1. Hubungan seks saat hmil akan membahayakan bayi
Kekhawatiran ini tidak beralasan, Pada kehamilan normal alat kelamin pria tidak akan mengganggu janin yang terlindung oleh dinding otot rahim dan cairan ketuban. Tambahan lagi, di sekitar mulut rahim terdapat lendir penyumbat sehingga menghalangi masuknya air mani dan kuman penyakit.

2. Orgasme bias membuat bayi keluar secara paksa (lahir prematur)
Orgasme memang menimbulkan kontraksi uterus yang pada sebagian wanita menimbulkan rasa sakit di perut bawah, sehingga disangka akan melahirkan. Namun tidak usah khawatir karena penelitian menemukan bahwa sepanjang kehamilan normal, orgasme tidak akan menyebabkan bayi lahir sebelum waktunya.

3. Jangan berhubungan seks saat hamil jika pernah mengalami keguguran
Tidak ada bukti yang menyebutkan berhubungan seks waktu hamil muda bias menyebabkan keguguran. Keguguran pada kehamilan muda biasanya disebabkan kelainan genetik yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas seksual. Namun mereka yang pernah mengalami keguguran memang sebaiknya berhati-hati, dan jika ditemukan perdarahan pada kehamilan muda sebaiknya menghindari hubungan seks dahulu sampai perdarahan berhenti.



Dari berbagai sumber.

Kiat Bercinta Saat Hamil


Kehamilan bisa menjadi kesempatan anda dan pasangan mencoba posisi bercinta yang berbeda. Posisi kandungan yang semakin membesar memang membuat anda mau tidak mau harus berusaha mengembangkan kebiasaan bercinta yang berbeda agar tetap merasa nyaman dan aman.
  1.  Berhubungan seks dengan posisi all-fours mungkin terasa lebih nyaman bagi anda yang sedang hamil tua, posisi ini tidak menekan perut  dan payudara anda.
  2.  Di usia kehamilan pertengahan, berhubungan seks dengan cara menyamping berhadapan mungkin cocok untuk anda.
  3.  Posisi diatas pasangan anda dengan kaki mengapitnya memungkinkan anda mengontrol  kedalaman dan sudut penetrasi sesuai dengan yang anda inginkan. Posisi ini juga meniadakan tekanan terhadap perut anda.


Dari berbagai sumber.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More